Dapur Pecel Mbah Mondreng di Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur.Pewarta: Madsyah
LIPUTAN86.ID – Tidak ada lampu gantung. Tidak ada playlist. Tidak ada menu QR code. Yang ada hanya dapur rumah papan, bau asap kayu, dan suara masakan Tempe, Tahu Isi yang di goreng di atas wajan. Di sinilah sensasi makan pecel yang beda dimulai.
Dari Lapangan Merdeka Sribhawono, jalan sekitar 1 KM ke arah Desa Wana. Begitu masuk Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, cari rumah paling tua. Itulah Pecel Mbah Mondreng.
Begitu masuk, kaki langsung menginjak lantai dari tanah. Kursi kayu panjang sudah berjejer. Di tengah dapur, Suryani, cucu mantu Mbah Mondreng, sibuk membungkus pesanan.
“Silakan duduk. Makan di sini saja,” sapa Suryani sambil tersenyum, Minggu (9/8/2026).

Makan di Dapur, Bukan di Meja Cafe:
Tidak ada sekat antara tempat masak dan tempat makan. Pembeli duduk di dapur itu juga. Di sebelahnya panci air mendidih untuk merebus bayam dan pepaya. Di sampingnya lagi, gorengan tempe dan pisang baru diangkat dari wajan.
Udara hangat dari tungku kayu berpadu dengan aroma sambal kacang. Tak ada Ac ataupun Kipas Angin, namun anehnya suasana di ruangan tersebut terasa sejuk dan adem berbeda terbalik saat di tengah jalanan.
Selama 30 tahun suasananya memang tidak pernah berubah. Warung ini warisan Mbah Mondreng. Sekarang diteruskan Suryani bersama 4 kerabatnya.
“Kami nerusin saja. Biar warisan Mbah tetap ada. Makan di dapur biar berasa di rumah sendiri,” tuturnya.
Sensasi Daun Jati:
Pesanan datang. Tidak di atas piring keramik. Tetapi, seporsi pecel diletakkan di atas selembar daun jati yang lebar dan bersih.
Sayuran Bayam hijau, pepaya rebus, lalu siraman sambal kacang kental. Di sampingnya, nasi putih atau lontong dengan Harga total Rp10.000.
Makan pakai tangan di atas daun rasanya beda. Tidak licin seperti piring. Tidak ada suara sendok beradu. Yang ada hanya suara kunyahan, obrolan warga, dan sesekali ayam berkokok dari belakang rumah.
Seporsi biasa Rp5.000 Tambah gorengan tempe, tahu, atau pisang kalau mau.
Dari Warga Biasa Sampai Pejabat Ikut Lesehan:
Dulu yang duduk di sini hanya buruh dan tetangga. Kini mejanya sering penuh. Penyebabnya sederhana: video TikTok.
Orang penasaran. “Beneran makan di dapur?”, “Beneran pakai daun jati?”, “Harganya 5 ribu?”.
Akhirnya datang. Ada anak muda bawa kamera, ada pejabat lepas dasi, ada keluarga bawa anak. Semua duduk sejajar di kursi kayu yang sama.
Warung buka setiap hari, mulai siang sampai sore menjelang magrib. Tidak pakai booking. Siapa cepat, dia dapat tempat.
Kesederhanaan yang Bikin Kangen:
Bukan di cafe. Bukan di resto estetik. Tapi di dapur papan itulah orang menemukan rasa yang sudah 30 tahun tidak berubah.
Tidak ada yang dibuat-buat. Hanya warisan Mbah Mondreng, selembar daun jati, dan seporsi pecel 5 ribu.
Kalau ke Sribhawono, jangan cari tempat mewah. Cari saja dapur yang asapnya masih mengepul. Duduk. Pesan pecel.
Dan rasakan sendiri, kenapa makan di tempat paling sederhana justru yang paling diingat.
Redaksi


Tidak ada komentar