Eka Resti, Siswi SMK Transpram 2 Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. LIPUTAN86.ID — Berisiknya suara air hujan di kampung Rajabasa Lama akhir-akhir ini tak kalah berisiknya isi hati Ahmad di terpa bimbang mengambil putusan selepas lulus sekolah. Ke Negera Jepang seperti menanti dirinya untuk datang meraih mimpi yang di pendam selama ini.
Ahmad adalah kakak laki-laki dari dua bersaudara, umurnya yang menginjak 18 tahun membuat dirinya dipenuhi rasa tanggung jawab pada adiknya. Ditambah Abi dan Umi yang sudah berpulang 2 Tahun terakhir membuatnya bekerja paruh waktu di sela Sekolah.
Sore ini, di teras ketika Ahmad hendak duduk melihat dua semut tengah lewat di hadapannya. Bagaimana semut yang bergotong royong mengambil remah roti dan menggendongnya di punggung. Teman si Semut itu memilih tercebur kedalam genangan air yang berasal dari gelas karena jika pun dua semut itu menyebrang tetap akan terjatuh satu.
Tetapi semut itu akhirnya tetap melanjutkan perjalanan nya menaruh remah roti itu kedalam sarang. Bukan jahat namun di setiap keberhasilan yang di dapat pasti ada yang dikorbankan.
“Bang, sedang memperhatikan Semut?” Tanya Atiya, adik perempuannya yang berjalan dari dalam rumah membawa semangkuk Mie ayam seraya menepuk pundak Ahmad.
“Terimakasih ya” Ahmad mengambil Mie ayam itu.
“Iya Tiya, Abang tertegun melihat dua semut itu, teringat bahwa memang setiap kebahagiaan yang kita dapat itu akan selalu ada kesedihan orang lain yang selalu terselip di dalamnya” Lanjutnya. Namun, sepertinya Atiya bingung mencerna.
“Misal nih ya, Kalo ada Tukang gali kubur yang sudah beberapa hari tidak dapat penghasilan dan harus menghidupi keluarganya tiba-tiba di panggil orang untuk menggali kubur yang berarti di satu sisi dia senang istri, anak nya bisa makan tetapi di satu sisi ada keluarga orang lain yang sedih di tinggal kan” jelas Ahmad. Ntah darimana pikiran itu tiba-tiba.
Ditemani dengan gemuruh hujan, Mie ayam memang nomor 1 sebagai andalan ketika perut lapar dan yang jelas itu tidak baik di konsumsi setiap hari.
“Abang, terimakasih untuk selalu mengusahakan Atiya, aku janji akan belajar lebih giat lagi untuk masuk SMA favorit seperti Abang. Abah dan Umi pasti bangga sama Abang diatas sana, yang selalu menjaga Atiya dan kerja paruh waktu untuk biaya sekolah kita,”ungkap Atiya.
“Jadi Abang jangan relakan Kerja di Jepang karena Atiya tidak harus seperti semut tadi yang harus memilih bang, kita usahakan bahagia itu berdua” tambahnya.
Atiya sebenernya bukan lah adik yang neko-neko, dia pun tidak memberatkan Abang nya dalam hal Finansial. Tapi rasanya adik mana yang tidak sedih jika kakaknya menanggung beban sendirian.
Disisi lain Ahmad tidak menyangka, punggung yang terasa berat itu luntur seketika kala melihat senyum adiknya. Sebatang Kara pun rasanya tak layak untuk dikatakan karena adiknya selalu ada untuk menemani nya, hanya pikir yang bisa ia geluti. Rindu Abah-Umi yang kian meredam kini ia bersemangat untuk menata masa depan nya dan adiknya dengan sebaik-baiknya.
Ahmad menaruh mangkuk Mie ayam itu dimeja, senyumnya kian merekah dan semangatnya mulai membara melihat Adiknya.
“Tak harus memilih antara harus tetap disini dan membiayai Atiya dalam keadaan raga disini, aku akan mengusahakan kecukupan kasih sayang dan pendidikannya serta mengusahakan mimpiku” gumam Ahmad.
“Jadi tidak apa kalau dalam waktu kedepan Abang tidak bisa menemani Atiya disini?” Tanya Ahmad.
Atiya yang terus tersenyum mengangguk. “Atiya kan bukan anak penakut jadi tenang saja” jawab Atiya.
“Seperti kata Abang tadi, Semut yang harus memilih dan antara kebahagiaan tukang gali kubur dan kesedihan keluarga yang di tinggal. Mungkin kita harus menjalani kesedihan dulu lalu menuju kata indah itu akan tercapai” kata Ahmad.
Tangisan yang terpendam di hati masing-masing itu pasti kelak akan terganti kan.
Amanat: Terkadang kita sebagai seseorang takut untuk mengambil keputusan-keputusan yang kita ingin karena takut dengan kita mengambil keputusan itu kebahagiaan yang kita miliki sekarang ini hilang.
Tetapi setiap yang kita ambil memang selalu memiliki kurang dan lebih seperti opportunity cost dalam ekonomi, jadi pilihan itu kembali lagi kita yang menjalani. Ingin tetap di tempat yang sama atau pun berkembang walau dengan langkah yang mungkin menyakiti.
Penulis: Eka Resti.
Tidak ada komentar