Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah di Acara Festival Kakao di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara.LIPUTAN86.ID — Selama puluhan tahun kakao Lampung Timur hanya dijual dalam bentuk biji kering. Kini, 24.555 kepala keluarga petani diajak naik kelas. Melalui Festival Kakao dan peluncuran Akademi Kakao Agroforestri, Pemkab Lamtim menargetkan diri menjadi “Rumah Kakao Nasional”.
Festival dibuka Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara, Sabtu (25/7/2026).
Acara ini mempertemukan petani, pelaku usaha, akademisi, hingga pembeli global seperti OFI, Barry Callebaut, dan Mars.
Data 2025 mencatat Lampung Timur punya kekuatan besar di sektor perkebunan kakao dengan Luas lahan 11.076 hektare, produksi 3.750 ton/tahun, dengan produktivitas 5,7 kuintal/hektare.
“Ini modal luar biasa. Tapi kalau kita terus jual biji mentah, nilai tambahnya lari ke luar. Kita harus transformasi. Mulai dari budidaya, mutu panen, olah pascapanen, sampai pemasaran modern,” tegas Bupati Ela.

Ia mendorong petani berani membuat produk turunan: bubuk kakao, cokelat batang, minuman cokelat, hingga produk kreatif.
“Mari jadikan kakao sebagai identitas dan kebanggaan Lamtim. Dari hulu sampai hilir kita kerjakan. Tujuannya satu, petani sejahtera, UMKM hidup, lapangan kerja terbuka,” ujarnya.
Festival tahun ini dikemas bukan sekadar pameran, tapi kelas lapangan untuk para petani.
Pemkab mewajibkan petani ikut pelatihan. Materinya lengkap, tanam multiklon agar tahan penyakit, pemupukan organik, hingga sistem agroforestri supaya lahan tetap subur dan ramah lingkungan.
Ketua Forum APIK mengingatkan standar dasar yang sering diabaikan, jangan jemur biji di atas tanah, dan pastikan kering sempurna.
“Mutu ekspor ditentukan di sini. Kalau asal-asalan, harga kita ditekan pembeli,” katanya.
Forum APIK memperkenalkan “Aplikasi Sistem APIK” untuk pendataan petani. Aplikasi ini akan mempermudah penyaluran bantuan, pelatihan, hingga pemantauan kebun secara real time dan terintegrasi.
Festival juga diramaikan pameran inovasi: pupuk organik, fungisida nabati, dan pengendali hama alami. Ini wujud dorongan budidaya berkelanjutan.
Turut hadir mitra pendamping Rikolto, PBN, GIZ, KAWAN TANU, GEMA CITA, CSP. Kehadiran eksportir besar menjadi bukti pasar sudah menunggu kakao Lamtim berkualitas.
Acara ditutup dengan tradisi baru: toast minuman cokelat bersama. Simbol bahwa kakao Lamtim siap dikonsumsi dan dibanggakan oleh warganya sendiri.
Dengan sinergi pemerintah, petani, dan dunia usaha, Bupati Ela optimis target Rumah Kakao bukan mimpi.
Redaksi


Tidak ada komentar