Foto: Ilustrasi by Lusiana. LIPUTAN86.ID — Di sebuah desa ada seorang anak yang hidup dengan keluarga yang jauh lebih mementingkan ego mereka dari pada anaknya sendiri. Ia bernama Dewi, seorang anak yang terlihat ceria, namun kenyataannya banyak luka yang tidak bisa ia ungkapkan. Ia menutupi semua lukanya sehingga orang lain tidak mengetahui kalau mentalnya sudah hancur.
Suatu hari ayah dan ibunya bertengkar hebat Dewi hanya bisa menangis didalam kamar sambil berkata, “kenapa aku dilahirkan di keluarga yang seperti ini, kelihatan utuh namun didalamnya runtuh” ucapnya.
Tak sampai disitu, masalah keluarga Dewi setiap apa yang ia lakukan pasti selalu salah.
“Hei… apa yang kamu lakukan dasar anak yang tidak berguna” ucap Ayah Dewi.
Dewi pun menjawab “Eee… kenapa sih Yah setiap apa yang aku lakukan selalu salah di mata Ayah”. Namun, Ayahnya tidak terima Dewi menjawab perkataannya itu, amarah pun memuncak dan Plakkk…!
“Saaa…kit yahh” ucap Dewi sambil menangis.
“Diam kamu anak gak tahu diuntung, gak berguna mati saja sana” ucap Ayahnya. Kata-kata itu sangat menyayat hati Dewi.
“Ya Allah sungguh sakit hatiku, mentalku sudah dihancurkan oleh keluarga ku sendiri” ratap Dewi.
Ibunya pun juga turut menyalahkannya,
“Dasar anak tidak berguna nyesel Ibu ngelahirin kamu” timpal Ibu Dewi itu.
“Bu… asal Ibu tahu kalau boleh milih aku gak mau lahir di dunia ini, aku juga gak minta ada di keluarga seperti ini keluarga yang toxic, aku capekk” Jawabnya, sambil mengelus dada karena sakit hati atas kata-kata yang di lontarkan ibunya.
Sungguh malang nasib Dewi, seorang anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari keluarganya malah mendapatkan luka batin.
Namun demikian, Dia masih tetap berfikir, “Meski bagaimanapun mereka tetaplah keluargaku, aku harus kuat” ucap Dewi dalam batinnya.
Meskipun sudah diperlakukan seperti itu, Dia tetap ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tidak peduli rasa sakit yang hadapinya, Dia hanya berkomitmen bahwa semuanya itu harus bisa dilewati.
Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengerti perasaan anaknya, jangan hanya selalu meminta untuk mengerti keadaan orang tuanya saja. Karena seorang anak tidak hanya ingin disayangi tapi juga butuh didengar dan dimengerti perasaannya.
Karya: Lusiana, Siswa MA Darul Istigomah Labuhan Maringgai, Lampung Timur.
Tidak ada komentar